Jumat, 24 Oktober 2014

That Day (Pt. 2 [mode flashback])

Dia mulai menjauh. Perlahan, tapi pasti. Dengan mudahnya ia meninggalkan kenangan kami yang meskipun sedikit, akan sangat berarti. Aku masih ingat, saat kami ulangan harian Biologi. Kami sama - sama mendapat nilai yang jelek. Tapi, kami masih sempat untuk bercanda. Berbagi tawa hingga akhirnya ia tersenyum tenang....

~...~

"Yah, masa nilai 5? Nilai macam apa ini?!" keluhku pada teman sebangku ku, Siti.
"Kamu masih mending lah. Daripada aku." Temanku menjawab.
"Iya sih. Udah ah. Aku nggak akan kasih tau nilai ini ke orangtua aku."
"Aku juga." jawabnya lesu. Poor you, Siti. Eh iya. Poor me too. :3

Aku teringat dia. Saat itu ia tepat berada di belakangku. Tapi dia di barisan sebelah. :3

Kepalaku langsung menengok ke belakang. Aku bertanya,

"Hei, nilai kamu berapa?"
"Kamu duluan. Kamu berapa?"
"Aku dapet 5." T_T
"Kamu mending."
"Emang kamu dapet berapa?"

Dia lalu menunjukkan jarinya. Menandakan berapa total nilainya. Aku hanya ber 'oh' ria. (Maap ya, aku nggak mau ngasih tau nilai aslinya. Takut dia nya liat.)

Ternyata nilainya lebih kecil dari nilaiku. Huahahaha. Aku mengalahkan si Master Sejarah ini. Huahahahaha. Aku lalu memeriksa kembali hasil ulanganku. Ternyata, ada beberapa nomer yang disalahkan! Wah, aku harus protes ini.

Aku berjalan ke meja guru. Dan aku bilang kepada wali kelas ku. Ternyata aku benar dan diberi tambahan nilai. Yey! Nilaiku jadi 6, 6! (Hellow, nggak ada kemajuannya. :3)

Lalu aku duduk kembali di mejaku dan berbalik untuk memberitahu nya tentang kabar ini.

"Eh, nilai aku naik loh?"
Ia hanya mengerutkan dahi.
"Iya, tadi ada yang salah ngoreksi. Nilai aku jadi 6, 6!!!" aku mengumumkannya dengan rasa yang amat bahagia. Kenapa? Karena nilai paling tinggi di kelas ini hanya 7, 7.
"Dan kamu bangga?" ia bertanya dengan muka datarnya itu.
'Iya. Aku sangaaaaaat bangga. Aku dapet nilai 6, 6 dan aku banggaaa."

Aku mengucapkannya berulang kali hingga ia tersenyum. Dan aku pun tertawa.
Melihat senyumannya itu, tenang sekali. Senyum nya teduh dan sangat menenangkan siapa saja yang melihatnya...


~...~

Momen itu, membuatnya tersenyum, aku tak akan melupakannya. Senyumannya, wajah murungnya saat menunjukkan nilainya, kerutan di dahinya, wajah datarnya, semuanya...
Mengingatnya membuatku meneteskan air mata. Aku selalu bertanya, apa aku salah? Jika aku salah, tolong jelaskan dan tegur aku. Jangan berdiam dan menjauh seperti ini...
Sama seperti yang kau lakukan dulu. Ketika aku menceritakan sesuatu, kau akan selalu memberi saran kepadaku. Tak pernah kau mengelak dari masalahku. Tak pernah lelah menasihatiku. Tapi mengapa, disaat seperti ini, kau menjauh? Kau selalu memalingkan wajah saat bertemu denganku. Kau selalu menghindar bahkan jika aku berada dalam jarak yang cukup jauh denganmu.
Dan kau sekarang mulai mendekatkan diri ke anak - anak perempuan lain di kelas. Kau lebih senang bercanda dengan mereka dibanding melihatku..

Kau tahu, semua ini menyiksaku.
Kau tak tahu kan, bagaimana perasaanku?
Kau tak tahu kan, setiap malam aku selalu membasahi bantalku?
Kau tak tahu kan, bagaimana rasanya hati ini saat melihatmu memalingkan wajah dariku?
Kau tak tahu kan, rasanya hati ini ketika kau tersenyum bukan karena ku? Karena orang lain?

Perasaanku? Sakit.
Bantalku? Selalu basah dengan air mata.
Hati ini? Perih, remuk, dan tertusuk.
Senyum mu yang bukan karena aku? Aku menyesal.

Menyesal, karena tak bisa menjagamu agar tetap disisiku.
Menyesal, karena tak bisa membuatmu merasa nyaman disisiku.
Menyesal, karena aku bisa mencintaimu. Kau tentunya tahu, aku tak boleh mencintaimu.
Karena,

.
.
.
Kita berbeda.



.......

Uaaaa... Kali ini Ghya plesbek. Huaa, inget kamu yang ada disana. :(
Semoga kamu bisa mengertiaku ya. :')

Oh iya, buat kalian yang udah baca, makasih buat waktunya. :)

Jumat, 03 Oktober 2014

That Day (Pt. 1)



"Ada acara Sanitasi Kebersihan. Dalam acara itu ada lomba jinggle. Anggotanya 6 - 10 orang. Ibu cuma terima 3 kelompok."
Wow! Jinggle! Aku pingin ikut! Tapi aku tau aku nggak akan kepilih. Karena hanya orang - orang jenius yang bakal dipilih buat jinggle ini.

         Ini cerita saat aku kelas 9. Dimulai saat akhir bulan September.


"Sen, kamu ya, yang jadi dancer nya."
"Hah? Nggak mau ah. Ziyan aja."
"Enggak. Kamu aja. Biar sama tingginya sama si Intan."

    Aku mendengar percakapan pendek itu.
    Ha, aku tau ini akan terjadi.

"Iya Sen, udah ikut aja. Kalau menang lumayan loh." Aku ikut menyemangati.
"Atuh, da aku mah nggak bisa."
"Pasti bisa, tenang aja."

         Itulah, aku hanya bisa menyemangati temanku itu. Aku tau, aku terlalu kekanak - kanakan. Sebenarnya aku ingin menjadi peserta Jinggle itu. Tapi ya, mau bagaimana lagi?

~.~

          Hari - hari berlalu. Latihan jinggle pun dimulai. Sementara aku juga sibuk latihan angklung untuk menyambut pihak Australia yang akan datang ke sekolah kami. Setiap aku akan mengambil angklung, aku selalu menyempatkan diri. Untuk memerhatikan seseorang yang berada dalam team jinggle yang melibatkan salah satu teman ku, Senia. Alasan apapun akan ku gunakan bahkan aku rela mengambilkan angklung teman - temanku yang lain. Hanya untuk melihat mu.

         Tapi, hal yang menurutku aneh terjadi dalam beberapa hari ini. Yang aku tak tahu apa penyebabnya. Kejadian yang selalu membuatku menangis bahkan hanya saat aku membayangkannya. Beberapa hari ini, dia...
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~

Wakwak. Ini kejadian yang nggak akan pernah aku lupakan. XD
Senia, maaf melibatkan mu.. XD XD
Thank's for your time and leave the comment, please! :) :)