"Ada acara Sanitasi Kebersihan. Dalam acara itu ada lomba jinggle. Anggotanya 6 - 10 orang. Ibu cuma terima 3 kelompok."
Wow! Jinggle! Aku pingin ikut! Tapi aku tau aku nggak akan kepilih. Karena hanya orang - orang jenius yang bakal dipilih buat jinggle ini.
Ini cerita saat aku kelas 9. Dimulai saat akhir bulan September.
"Sen, kamu ya, yang jadi dancer nya."
"Hah? Nggak mau ah. Ziyan aja."
"Enggak. Kamu aja. Biar sama tingginya sama si Intan."
Aku mendengar percakapan pendek itu.
Ha, aku tau ini akan terjadi.
"Iya Sen, udah ikut aja. Kalau menang lumayan loh." Aku ikut menyemangati.
"Atuh, da aku mah nggak bisa."
"Pasti bisa, tenang aja."
Itulah, aku hanya bisa menyemangati temanku itu. Aku tau, aku terlalu kekanak - kanakan. Sebenarnya aku ingin menjadi peserta Jinggle itu. Tapi ya, mau bagaimana lagi?
~.~
Hari - hari berlalu. Latihan jinggle pun dimulai. Sementara aku juga sibuk latihan angklung untuk menyambut pihak Australia yang akan datang ke sekolah kami. Setiap aku akan mengambil angklung, aku selalu menyempatkan diri. Untuk memerhatikan seseorang yang berada dalam team jinggle yang melibatkan salah satu teman ku, Senia. Alasan apapun akan ku gunakan bahkan aku rela mengambilkan angklung teman - temanku yang lain. Hanya untuk melihat mu.
Tapi, hal yang menurutku aneh terjadi dalam beberapa hari ini. Yang aku tak tahu apa penyebabnya. Kejadian yang selalu membuatku menangis bahkan hanya saat aku membayangkannya. Beberapa hari ini, dia...
.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Wakwak. Ini kejadian yang nggak akan pernah aku lupakan. XD
Senia, maaf melibatkan mu.. XD XD
Thank's for your time and leave the comment, please! :) :)
waks ... good lah
BalasHapus